Drama Wolverine: Dari Game PS5 Jadi "Ben 10" PS2—Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Baru-baru ini dunia gaming digemparkan sama perbandingan yang bikin geleng-geleng kepala. Marvel’s Wolverine—game AAA dari Insomniac Games, studio di balik Spider-Man yang sukses besar—tiba-tiba dibandingin sama game anak-anak PS2, Ben 10: Protector of Earth (2007). Iya, game yang rilis hampir 20 tahun lalu . Dan yang bikin heboh, banyak yang setuju!

Tapi coba pikir: apa iya game sebesar ini sejelek itu? Atau ada yang lebih dalam di balik meme dan video viral itu? Daripada ikut-ikutan ngejek, mari kita bedah fenomena ini. Kita bakal ngupas, ini bukan cuma soal jelek atau nggak-nya game, tapi soal bagaimana media sosial, terutama algoritma X (Twitter), lagi memainkan emosi kita dan menciptakan “drama” sendiri. 

Gue pengen ngajak lo jadi penonton yang lebih cerdas. Nggak cuma percaya sama trending topic.


Dari Mana Mulainya? Perbandingan yang Langsung Viral

Semuanya dimulai dari satu unggahan sederhana. Seorang user X dengan akun Acervo_ADG membandingkan adegan pertarungan melawan robot raksasa (Sentinel) di Wolverine dengan adegan serupa di Ben 10 . Dalam kedua adegan:

  1. Bos besar berdiri di arena yang relatif kecil.
  2. Karakter utama (Wolverine atau Ben) menghindari serangan bos.
  3. Pemain menyerang bagian tubuh bos secara bertahap sampai hancur.

Polanya, ya, mirip banget. Seorang user langsung nyindir, “Selamat untuk Insomniac Games karena terinspirasi oleh ‘Ben 10′” . Sindiran ini viral, dan dari sinilah badai dimulai.

Bukan Cuma Ben 10, Tapi Juga “Auto-Play”

Setelah perbandingan Ben 10, muncul gelombang kritik lain yang lebih “visual”. Banyak akun gaming membuat video pendek yang “memperlihatkan” cara main Wolverine. Caranya? Hanya dengan menahan satu tombol joystick ke atas . Sambil berpura-pura memegang kontroler, mereka menunjukkan karakter Logan bergerak maju di sepanjang jalur linier dengan sedikit interaksi. Intinya, mereka menyindir bahwa game ini “jalan sendiri” (plays itself), nggak ada tantangan berarti. Ini semakin memperkuat narasi bahwa Wolverine adalah game yang kuno dan membosankan.

Dampaknya: Bukan Cuma Game yang Tersakiti

Yang terjadi selanjutnya bukan cuma diskusi game biasa. Ini udah berubah jadi serangan. James Stevenson, Direktur Komunitas dan Pemasaran Insomniac, angkat bicara di X. Dia bilang, “Saya pikir cara liar algoritma ini memperkuat dan memaksa negativitas kepada Anda membuat saya mempertimbangkan kembali filosofi saya untuk memberi tahu pengembang untuk melihat atau memposting di sini. Ini adalah serangan tanpa henti yang saya tidak percaya baik untuk kesehatan mental siapa pun dan tidak representatif.” 

Perhatikan kata-katanya: “serangan tanpa henti” dan “algoritma … memperkuat negativitas”. Ini bukan sekadar keluhan, ini adalah pengakuan dari orang dalam tentang bagaimana platform media sosial bekerja.

Bedah Algoritma: Kenapa Kebencian Lebih Cepat Viral?

Kenapa sih perbandingan dengan game PS2 bisa lebih viral daripada preview positif yang juga banyak? Jawabannya ada di algoritma . Platform seperti X (dulu Twitter) dan TikTok dirancang untuk memaksimalkan engagement. Konten yang memicu emosi kuat—tertawa, marah, atau jengkel—akan lebih cepat menyebar daripada konten yang netral atau positif. Meme dan sindiran itu “mudah dicerna”, mudah di-share, dan gampang memicu reaksi.

Alhasil, “feedback loop” negatif terbentuk . Orang yang benci Wolverine akan terus-menerus disuguhi konten yang membenci Wolverine. Mereka yang awalnya ragu-ragu ikut-ikutan benci karena “semua orang” bilang jelek. Dan mereka yang suka jadi malas bicara karena takut diserang. Ini menciptakan persepsi bahwa game ini “dibenci semua orang”, padahal belum tentu. Viralitas bukanlah representasi mayoritas, tapi representasi dari apa yang paling “menghibur” untuk dilihat, baik itu kebencian atau kemarahan. 

“Tapi, Game-nya Beneran Nggak Bagus, Kan?”

Pertanyaan penting. Apakah kritiknya nggak beralasan sama sekali? Tentu tidak. Banyak gamer veteran yang memang kecewa dengan keputusan Insomniac membuat game ini linier, berbeda dengan Spider-Man yang open-world . Mereka juga mempertanyakan inovasi gameplay yang terasa “itu-itu saja” . Kritik ini valid dan fair.

Tapi, yang jadi masalah adalah cara kritik disampaikan dan dibesar-besarkan. Perbandingan dengan Ben 10 mungkin lucu dan ada benarnya secara struktural, tapi itu jadi satu-satunya narasi yang dominan. Nuansa hilang. Diskusi tentang kualitas visual, cerita, dan performa teknis yang diakui banyak pihak bagus (misalnya, performa 60 FPS dengan ray tracing di PS5 standar) jadi tenggelam . Intinya, ada yang namanya “exaggeration” dan “groupthink” yang diperparah algoritma.

Tips: Jadi Gamer Cerdas di Era Algoritma

Gimana caranya kita nggak jadi korban “pengadilan algoritma” ini? Ini beberapa tips sederhana.

  1. Sadari Polanya. Kalo lo liat meme yang “terlalu lucu” atau komentar yang “terlalu marah” tentang sebuah game yang belum rilis, tahan dulu. Tanya ke diri sendiri: “Apa ini cuma bahan bakar algoritma buat bikin rame?” .
  2. Cari Sumber yang Bervariasi. Jangan cuma nonton video viral. Baca juga preview dari jurnalis game terpercaya yang udah mainin game-nya secara langsung. Mereka biasanya kasih analisis yang lebih seimbang .
  3. Bedakan Kritik dan Olokan. Kritik membangun itu spesifik dan menyasar aspek game. Olokan di media sosial cuma berusaha nyari “momen viral” dengan cara yang paling ekstrem. Seorang user bahkan ngeliat ini, “Bahkan Hi-Fi Rush lebih baik dari ini,” yang mana perbandingannya juga nggak masuk akal .
  4. Ingat, Belum Rilis. Marvel’s Wolverine baru rilis 15 September 2026 . Banyak hal bisa berubah. Jangan vonis mati sebelum game-nya bisa dicoba sendiri. Developer Insomniac sendiri masih bersemangat dan nggak gentar dengan kebencian ini . Mereka bilang, “Tidak sabar untuk orang-orang merasakan seluruh petualangan keliling dunia.” 

Kesalahan yang Sering Kita Lakukan

  1. Mengira “Viral” Itu “Benar” atau “Mewakili”. Ini jebakan paling umum. Hanya karena satu video dilihat jutaan kali, bukan berarti itu pendapat mayoritas atau kebenaran mutlak. Itu cuma berarti videonya “berhasil” memicu algoritma .
  2. Lupa Bahwa Pembuat Game Itu Manusia. Kita sering lupa bahwa di balik layar ada ribuan developer yang kerja keras. Melihat proyek mereka dihujani kebencian terus-menerus karena meme pasti sangat melelahkan mental. Stevenson sampai mempertanyakan apakah aman bagi kesehatan mental timnya untuk membaca komentar di X .
  3. Menghakimi Hanya dari Sekejap Cuplikan. Sebuah adegan melawan bos yang mirip dengan game lawas nggak serta-merta membuat seluruh game itu jelek. Ada banyak elemen lain—cerita, karakter, mekanik lain, level design—yang nggak terlihat dari satu video 30 detik. Game Director-nya, Mike Daly, menjelaskan bahwa ini adalah petualangan linier yang “dinamis dan seru” karena Wolverine adalah karakter yang suka berkelana, bukan pahlawan lingkungan kayak Spider-Man. 

Penutup: Jangan Jadi Alat Algoritma

Jadi, apakah Marvel’s Wolverine layak ditunggu? Jawabannya: ya, terutama kalo lo suka game aksi linier, cerita yang fokus, dan performa teknis yang mulus. Tapi apakah game ini akan seburuk yang digambarkan oleh algoritma? Sangat tidak mungkin. Kita harus belajar untuk membedakan antara “diskusi kritis” dan “ritual kebencian viral”. Jangan biarkan algoritma yang memutuskan game mana yang bagus dan mana yang buruk. Jadi gamer yang cerdas, kritis, dan—yang paling penting—bisa menikmati game tanpa harus ikut-ikutan “bermain hakim” di media sosial. Karena pada akhirnya, game dimainkan bukan untuk di-vonis, tapi untuk dinikmati